Keberlanjutan kini menjadi bagian integral dari strategi bisnis di Indonesia, mengubah cara perusahaan beroperasi dalam menghadapi tantangan global. Survei yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa banyak perusahaan telah mengadopsi teknologi canggih untuk mendukung inisiatif keberlanjutan mereka.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitis, penggunaan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat. Hal ini menandakan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi perusahaan yang ingin tetap bersaing.
Dalam konteks ini, banyak pemimpin bisnis di Indonesia menyadari pentingnya memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan dampak positif terhadap lingkungan. Dengan memanfaatkan AI, mereka dapat mengoptimalkan operasi dan meningkatkan efisiensi.
Riset yang dilakukan menunjukkan bahwa hampir setengah dari perusahaan di Indonesia telah mengimplementasikan teknologi untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Keberhasilan ini mencerminkan adanya transformasi mendalam dalam cara pandang dunia usaha.
Peran AI dalam Mendorong Keberlanjutan di Sektor Bisnis Indonesia
Teknologi AI telah terbukti efektif dalam meningkatkan pengumpulan dan pelaporan data keberlanjutan. Hal ini sangat penting karena transparansi dalam laporan keberlanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab sosial perusahaan.
Penerapan AI juga membantu dalam optimasi konsumsi energi, yang menjadi fokus utama banyak perusahaan. Dengan mengurangi konsumsi energi, perusahaan tidak hanya membantu lingkungan tetapi juga mengurangi biaya operasional.
Di samping itu, AI berperan dalam meningkatkan efisiensi proses dan desain produk. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya memenuhi standar keberlanjutan, tetapi juga meningkatkan daya saing mereka di pasaran.
Pemanfaatan teknologi ini menciptakan kesempatan bagi perusahaan untuk memprioritaskan keberlanjutan sebagai alat strategis. Keberlanjutan akhirnya dipandang sebagai jalan untuk meraih keuntungan jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dengan data menunjukkan bahwa lebih dari 40% CEO percaya bahwa keberlanjutan meningkatkan reputasi perusahaan, jelas bahwa ada perubahan paradigma dalam dunia usaha di Indonesia.
Tantangan Ekonomi dan Geopolitik yang Masih Menghantui
Meskipun adopsi teknologi keberlanjutan semakin meluas, tantangan struktural masih ada di depan mata. Ketidakpastian dalam ekonomi global dan dinamika geopolitik menjadi faktor penghambat bagi banyak perusahaan untuk berinvestasi lebih dalam.
Dalam survei terbaru, dua dari lima perusahaan melaporkan bahwa perubahan dinamika geopolitik global mempengaruhi keputusan investasi mereka. Banyak yang merasa perlu untuk menunggu kepastian regulasi sebelum melanjutkan rencana mereka.
Walau begitu, ada tanda-tanda positif. Berbagai hambatan administratif yang sebelumnya menghambat investasi kini menunjukkan penurunan, yang mengindikasikan iklim usaha yang lebih baik. Hal ini memberikan harapan bagi pengembangan keberlanjutan lebih lanjut.
Fenomena yang disebut “Green Impact Gap” mencerminkan adanya perbedaan antara ambisi yang dinyatakan dengan kenyataan implementasi di lapangan. Meski banyak perusahaan memiliki target keberlanjutan, tidak banyak yang menerapkan strategi terukur untuk mencapainya.
Berdasarkan laporan tersebut, 97% perusahaan telah menyiapkan target keberlanjutan tetapi kurang dari setengah yang melaksanakan strategi secara komprehensif. Ini menunjukkan perlunya langkah-langkah nyata untuk mengurangi kesenjangan tersebut.
Digitalisasi Sebagai Prioritas Utama Investasi Masa Depan
Masyarakat bisnis Indonesia semakin mengutamakan digitalisasi sebagai bagian dari strategi keberlanjutan mereka. Rencana investasi dalam digitalisasi diharapkan akan meningkat, dengan banyak perusahaan siap mengalokasikan anggaran yang signifikan.
Ada rencana untuk investasi minimal US$1 juta dalam dua tahun mendatang, yang difokuskan pada pengembangan sistem yang lebih efisien. Pendekatan ini mencakup peningkatan sistem energi dan keberlanjutan rantai pasok.
Pusat data dan sektor utilitas adalah yang paling agresif dalam mengadopsi teknologi baru. Dalam konteks ini, perusahaan-perusahaan di bidang keuangan juga semakin mengintegrasikan teknologi untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat.
Keberlanjutan kini dipandang sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar tanggapan terhadap regulasi. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang memandang ini sebagai peluang, dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat diharapkan bisa tercapai.
Dengan keputusan mendasar untuk berinvestasi dalam digitalisasi dan keberlanjutan, perusahaan-perusahaan ini berupaya untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dalam pasar yang semakin kompetitif.

