Industri keramik di Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) percaya bahwa sektor ini akan mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2026 dengan target utilisasi produksi mencapai 80%, yang merupakan level tertinggi dalam dekade terakhir.
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, mengungkapkan keyakinannya terhadap prospek cerah industri ini. Peningkatan kapasitas produksi dan permintaan domestik yang kuat menjadi pendorong utama untuk mencapai target ambisius tersebut.
“Target ini realistis jika dukungan dari pemerintah tetap stabil dan masalah struktural dalam industri dapat diatasi dengan cepat,” jelas Edy Suyanto di Jakarta baru-baru ini. Hal ini menunjukkan harapan baru bagi pelaku industri keramik di tanah air.
Dukungan Kebijakan Pemerintah dan Strategi Pemulihan Industri
ASAKI mencatat bahwa kebangkitan industri keramik sangat bergantung pada sejumlah kebijakan strategis pemerintah. Penerapan kebijakan seperti Bea Masuk Antidumping dan Safeguard untuk produk keramik diharapkan dapat melindungi industri lokal dari persaingan yang tidak adil.
SNI yang wajib diterapkan pada produk keramik juga diharapkan bisa menjamin mutu dan kualitas output, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Program pembangunan 3 juta unit rumah menjadi pendorong tambahan, yang mengarah pada peningkatan permintaan keramik di sektor properti.
Dengan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor properti dan penurunan suku bunga perbankan, diharapkan permintaan keramik domestik dapat mencapai angka yang menggembirakan. Selain itu, Program FLPP yang mengakomodasi pembangunan 350.000 unit rumah juga menjadi sinyal positif bagi industri keramik.
Peningkatan Kapasitas Produksi Keramik Nasional
ASAKI memproyeksikan kapasitas terpasang untuk ubin keramik nasional akan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2026, kapasitas terpasang diperkirakan akan mencapai 672 juta meter persegi per tahun, mengikuti tren pertumbuhan dalam permintaan domestik yang meningkat.
Melangkah ke tahun 2027, kapasitas terpasang diharapkan menyentuh 701 juta meter persegi, dan pada tahun 2029, diperkirakan akan mencapai 720 juta meter persegi. Ini mencerminkan optimisme yang berkelanjutan terhadap perkembangan industri keramik di Indonesia.
Meskipun demikian, tingkat konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih tergolong rendah. Diperkirakan pada tahun 2029, konsumsi keramik baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita, yang masih jauh dari angka di negara-negara lain seperti China dan Vietnam yang mencatat ±4 meter persegi per kapita.
Peluang Ekspansi di Pasar Keramik Domestik
Hasil analisis menunjukkan bahwa masih ada banyak ruang bagi industri keramik di Indonesia untuk berkembang. Edy Suyanto menegaskan bahwa dengan tingkat konsumsi yang masih rendah, ada potensi besar untuk ekspansi di pasar domestik.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan upaya yang tepat dari seluruh pemangku kepentingan, industri keramik dapat meningkatkan konsumsi per kapita dan menutup kesenjangan dengan negara-negara lain. Dengan kata lain, industri keramik Indonesia mungkin berada dalam posisi yang baik untuk meraih peluang di masa depan.
Ke depan, diharapkan adanya sinergi antara industri, pemerintah, dan masyarakat untuk merealisasikan potensi ini. Dukungan berkelanjutan dari kebijakan pemerintah dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya produk keramik lokal akan menjadi kunci untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

