PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri baja nasional melalui investasi yang berkelanjutan. Langkah ini ditandai dengan dimulainya pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi.
Pembangunan fasilitas CGL 2 ini mencerminkan komitmen mendalam terhadap kebijakan kemandirian industri, yang sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat hilirisasi sektor industri. Melalui upaya ini, diharapkan kapasitas produksi baja nasional dapat meningkat, memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, menyatakan harapannya agar fasilitas ini dapat beroperasi secara optimal dan memberikan kontribusi nyata bagi industri dalam negeri. Kontribusi tersebut diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan daya saing produk-produk lokal di pasar global.
Pentingnya Pembangunan Fasilitas Baja Berkelanjutan
Kemenperin yakin bahwa pembangunan fasilitas CGL 2 akan memperkuat seluruh ekosistem industri baja dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri. Ini merupakan langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan memperkuat kemampuan industri lokal.
Bahkan, proyek ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru serta memberdayakan ekonomi lokal. Dodiet menegaskan bahwa aspek penciptaan lapangan kerja sangat penting bagi pengembangan masyarakat sekitar yang seiring dengan berkembangnya industri baja.
VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengungkapan bahwa pembangunan CGL 2 merupakan bagian integral dari komitmen mereka dalam memperkuat industri antara (midstream) yang berperan sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Pentingnya sektor ini tak dapat diabaikan demi keberlangsungan rantai pasok yang kokoh.
Kontribusi terhadap Industri Baja Global
PT Tata Metal Lestari tidak hanya fokus pada pemenuhan pasar domestik, tetapi juga berusaha untuk menembus pasar internasional dengan mengekspor produk baja lapis ke lebih dari 25 negara. Ini termasuk pasar yang memiliki standar kualitas tinggi seperti Amerika Serikat dan Eropa yang terkenal sulit dijangkau.
Pembangunan CGL 2 diproyeksikan akan meningkatkan kapasitas terpasang produk mereka hingga 2,5 juta ton dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan. Selain itu, perusahaan berkomitmen untuk mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) serta menghadirkan produk berkualitas global dengan label Made in Indonesia.
Dengan kehadiran fasilitas baru ini, diharapkan tidak hanya meningkatkan total kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan. Seiring dengan pencapaian ini, produk buatan dalam negeri diharapkan bisa lebih bersaing di pasar global.
Strategi untuk Memperkuat Industri Baja Nasional
Dalam mendukung kebijakan industri nasional, strategi pengembangan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah yang memberikan perhatian khusus terhadap sektor industri. Melalui regulasi yang tepat dan insentif yang menarik, diharapkan industri baja nasional mampu bertahan dan bersaing secara internasional.
Dodiet Prasetyo berpendapat bahwa kemandirian industri merupakan salah satu kunci sukses pembangunan ekonomi jangka panjang. Upaya meningkatkan kapasitas produksi melalui infrastruktur yang baik dan teknologi terkini adalah langkah luar biasa yang mampu menjawab tantangan di era globalisasi.
Diharapkan dengan adanya investasi dan pembangunan fasilitas baru ini, industri baja di Indonesia akan semakin solid dan siap menghadapi kompetisi global. Integrasi antara kekuatan industri lokal dan dukungan pemerintah akan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.

