Harga rumah sekunder di Indonesia mengalami stagnasi per November 2025. Pertumbuhan tahunan yang melemah dan turunnya suplai rumah di pasar sekunder merupakan faktor yang berkontribusi terhadap keadaan ini.
Berdasarkan laporan terkini, pertumbuhan harga rumah secara year-on-year (yoy) mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen. Meskipun demikian, Jakarta dan Bandung mencatatkan sedikit kenaikan harga pada bulan tersebut, memberikan harapan di tengah tren stagnasi.
Penting untuk dicatat bahwa penyesuaian pasar hunian sekunder dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perlambatan ekonomi dan inflasi serta sikap wait and see konsumen terhadap suku bunga menjadi pendorong utama dalam kondisi ini.
Stagnasi harga tentu memberikan dampak pada suplai rumah sekunder. Indeks Suplai Rumah Sekunder (Resale Supply Index/RSI) tercatat mengalami penurunan sebesar 0,3 persen secara bulanan dan turun 8,6 persen dibandingkan tahun lalu.
Perkembangan Harga Rumah di Berbagai Kota Besar Indonesia
Dalam analisis lebih lanjut, beberapa kota besar di Indonesia menunjukkan perkembangan harga yang berbeda. Bandung tercatat mengalami kenaikan harga tertinggi sebesar 1,0 persen secara bulanan, sedangkan Jakarta menyusul dengan kenaikan 0,2 persen.
Namun, secara tahunan, hanya ada sedikit kota yang menunjukkan pertumbuhan positif. Denpasar memimpin dengan kenaikan harga rumah tertinggi sebesar 3,4 persen, diikuti oleh Medan dan Bekasi.
Kota-kota lainnya, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa, mengalami stagnasi atau penurunan harga. Ini menunjukkan bahwa pasar hunian di banyak wilayah masih dalam proses penyesuaian.
Uniknya, Denpasar mencatatkan pertumbuhan harga rumah tahunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat inflasi. Seiring inflasi nasional yang tercatat di angka 2,72 persen, harga rumah di Denpasar tumbuh 3,4 persen, memberikan sinyal positif bagi para investor dan pembeli.
Perbandingan Segmen Rumah Berdasarkan Luas Bangunan
Menyelidiki lebih dalam, pengembangan berdasarkan segmen rumah dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Untuk segmen rumah dengan luas bangunan ≤60 meter persegi, Jakarta Pusat menunjukkan kenaikan harga yang paling signifikan, mencapai 28 persen secara tahunan.
Sementara itu, Surakarta mencatatkan peningkatan tertinggi di segmen 61–90 m² dengan kenaikan 16,7 persen dan Denpasar di segmen 91–150 m² dengan kenaikan 6,3 persen. Bekasi menunjukkan performa yang baik di segmen 151–250 m² dengan kenaikan sebesar 10 persen.
Dalam konteks ini, konsumen semakin mengalihkan perhatian mereka ke wilayah penyangga Jakarta. Permintaan di Tangerang menunjukkan pertumbuhan, menjadi lokasi paling banyak dicari dengan kontribusi 14,3 persen dari total listing enquiries nasional.
Tren ini mencerminkan preferensi konsumen yang cenderung memilih lokasi dengan harga lebih terjangkau dan pilihan hunian yang beragam. Jakarta Selatan dan Jakarta Barat juga menjadi pilihan populer bagi para pembeli saat ini.
Dampak Ekonomi Makro terhadap Pasar Properti
Dari perspektif makroekonomi, Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen. Kebijakan ini dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomis di tengah ketidakpastian pasar yang ada.
Meskipun upaya tersebut memang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan, daya beli masyarakat terhadap properti masih belum sepenuhnya pulih. Hal ini terutama disebabkan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan harga rumah selama beberapa bulan terakhir.
CEO salah satu grup properti mengungkapkan pentingnya memahami dinamika pasar secara mendalam. Flash Report sengaja dirancang untuk memberikan informasi yang objektif dan berbasis data bagi masyarakat dan pemangku kepentingan.
Dengan demikian, penting bagi industri properti untuk terus memantau tren harga dan suplai, khususnya di pasar sekunder. Dinamika ini sangat berpengaruh terhadap keputusan investasi di sektor hunian.

